Monday, 12 October 2009

PENJABARAN DARI RUMAH TONGKONAN

Rumah selalu berorientasi ke arah utara. Hal ini dilakukan karena adanya kepercayaan bahwasanya tuhan sang pencipta terletak disebelah utara,oleh sebab itu untuk menghormatinya maka rumah harus menghadap kearah utara agar mendapat restunya. Sedangkan ditinjau dari klimatologi,orientasi ini sesuai dengan arah mata angin dengan tujuan untuk mendapatkan sirkulasi udara yang baik dan manghindari sinar matahari sore.
Rumah terdiri dari tiga tingkatan dengan penjabaran sebagai berikut; tingkatan pertama untuk hewan ternak ataupun untuk menyimpan alat pertanian. Untuk lantai kedua diperuntukkan bagi manusia dalam hal ini adalah penghuni atau pemilik rumah,sedangkan untuk tingkatan ketiga diperuntukan bagi barang yang dianggap pusaka. Hal ini didasari karena adanya suatu kepercayaan bahwasanya dunia terdiri dari tiga tingkatan yang mana tingkatan pertama untuk hewan,kedua untuk manusia dan ketiga tuhan atau sang pencipta.
Material yang digunakan untuk pembangunan adalah kayu dan bambu. Konstruksi yang digunakan masih dikategorikan sederhana tetapi memiliki kekuatan dan kekokohan yang sudah relatif moderen. Bentuk bangunan ini selalu konstan atau tetap dan tidak berubah,sedangkan untuk pembangunan dilakukan dengan kegotong royongan bersama, tentu saja hal ini tidaklah mudah karena untuk melakukan pembangunan ini harus diadakaan musyawarah desa bersama dan juga upacara adat untuk memohon perlindungan dari sang pencipta baik bagi desa tersebut ataupun bagi penghuni rumah.
Dari segi fungsi,bangunan ini asalnya hanya diperuntukan bagi ketua adat saja. Dirumah Tongkonan ini lah segala urusan pemerintahan diatur dan dibuat. Tetapi seiring dengan perkembangan zaman akhirnya bangunan ini menyebar ke masyarakat,sehingga hampir seluruh masyarakat Toraja memilikinya dan tentunya fungsinya yaitu sebagai rumah tempat tinggal bagi mereka. Untuk membedakan status kepemilikan dari bangunan dapat di identifikasi dari jumlah tanduk dan kepala kerbau yang ada di depan bangunan tersebut. Semakin banyak tanduk dan kepala kerbau yang ada pada bangunan tersebut ,maka semakin tinggi derajat sesorang tersebut.
Dari segi bentuk,bangunan ini dipengaruhi oleh adanya kepercayaan bahwasanya kerbau adalah salah satu hewan yang dianggap suci. Penafsiran ini dapat dilihat dari perwujudan bentuk bangunan yang menyerupai bentuk tanduk kerbau,tetapi ada juga yang beranggapan bahwa bentuk atap rumah ini meniru bentuk perahu yang merupakan salah satu alat transportasi nenek moyang Suku Toraja. Dari segi fungsinya terhadap iklim,bangunan ini dapat meyelaraskan dengan curah hujan yang ada pada daerah tersebut. Sedangkan bentuk bangunan yang bisa dikategorikan sebagai rumah panggung,ini bisa disebabkan oleh keadaan atau kondisi tanah yang lembab sehingga dibuat tinggi dengan satu tujuan untuk mencegah udara lembab masuk ke banguanan
Dari segi konstruksi dan material,bangunan ini memiliki kesamaan dengan bangunan tradisional lainnya yaitu menggunakan kayu sebagai bahan utama,sedangkan untuk atap Tongkonan menggunakan bambu sebagai bahan utama.
KESIMPULAN
Seiring dengan perkembangan zaman,Rumah Tongkonan mengalami perkembangan dan perubahan. Perubahan ini tidak hanya terjadi dari fungsi tetapi juga dari bahan materialnya.
Fungsi awalnya yang semula hanya sebagai tempat musyawarah ataupun tempat tinggal bagi penguasa tetapi berubah menjadi tempat tinggal masyarakat ,baik itu kaum bangsawan ataupun rakyat biasa.
Konstruksi yang digunakanpun mengalami perubahan. Hal ini dapat dilihat dari penggunaan semen untuk pondasi.
Dari segi material yang semulanya hanya menggunakan kayu dan bambu,tetapi seiring dengan perkembangan zaman berubah menggunakan atap seng.
Fenomena yang terjadi dari perubahan ini menyebabkan Rumah Tongkonan berkurang nilai karakteristiknya.
Post a Comment

Google+ Followers