Wednesday, 30 September 2009

Kota Palembang

Kota Palembang adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan. Kota ini dahulu pernah menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum kemudian berpindah ke Jambi. Bukit Siguntang, di Palembang Barat, hingga sekarang masih dikeramatkan banyak orang dan dianggap sebagai bekas pusat kesucian di masa lalu.

Sempat kehilangan fungsi sebagai pelabuhan besar, penduduk kota ini lalu mengadopsi budaya Melayu pesisir, lalu Jawa. Sampai sekarang pun hal ini bisa dilihat dalam budayanya. Salah satunya adalah bahasa. Kata-kata seperti "lawang (pintu)", "gedang (pisang)", adalah salah satu contohnya. Gelar kebangsawanan pun bernuansa Jawa, seperti Raden Mas/Ayu. Makam-makam peninggalan masa Islam pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-makam Islam di Jawa.

Kota ini memiliki komunitas Tionghoa yang besar. Makanan khas daerah ini adalah pempek Palembang, tekwan, model, celimpungan, kue maksuba, kue 8 jam, kue engkak, laksan, burgo, dll. Makanan seperti pempek atau tekwan mengesankan "Chinese" taste masyarakat Palembang.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi. Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Sejarah

Secara teratur, sebelum masa NKRI pertumbuhan Kota Palembang dapat dibagi menjadi 5 fase utama:

Fase Sebelum Kerajaan Sriwijaya

Merupakan zaman kegelapan, karena mengingat Palembang telah ada jauh sebelum bala tentara Sriwijaya membangun sebuah kota dan penduduk asli daerah ini seperti yang tertulis pada manuskrip lama di hulu Sungai Musi merupakan penduduk dari daerah hulu Sungai Komering.

Fase Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya

Di sekitar Palembang dan sekitarnya kemudian bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning di hilir Sungai Musi, Si Gentar Alam di daerah Perbukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu Sungai Komering, Panglima Gumay di sepanjang Bukit Barisan dan sebagainya. Pada fase inilah Parameswara yang mendirikan Tumasik (Singapura) dan Kerajaan Malaka hidup, dan pada fase inilah juga terjadi kontak fisik secara langsung dengan para pengembara dari Arab dan Gujarat.

Fase Kesultanan Palembang Darussalam

Hancurnya Majapahit di Jawa secara tidak langsung memberikan andil pada kekuatan lama hasil dari Ekspedisi Pamalayu di Sumatera. Beberapa tokoh penting di balik hancurnya Majapahit seperti Raden Patah, Ario Dillah (Ario Damar) dan Pati Unus merupakan tokoh-tokoh yang erat kaitanya dengan Palembang. Setelah Kesultanan Demak yang merupakan 'pengganti' dari Majapahit di Jawa berdiri, di Palembang tak lama kemudian berdiri pula 'Kesultanan Palembang Darussalam' dengan 'Susuhunan Abddurrahaman Khalifatul Mukmiminin Sayyidul Iman' sebagai raja pertamanya. Kerajaan ini mengawinkan dua kebudayaan, maritim peninggalan dari Sriwijaya dan agraris dari Majapahit dan menjadi pusat perdagangan yang paling besar di Semenanjung Malaka pada masanya. Salah satu raja yang paling terkenal pada masa ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II yang sempat menang tiga kali pada pertempuran melawan Eropa (Belanda dan Inggris).

Fase Kolonialisme

Setelah jatuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pasca kalahnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada pertempuran yang keempat melawan Belanda yang pada saat ini turun dengan kekuatan besar pimpinan Jendral de Kock, maka Palembang nyaris menjadi kerajaan bawahan. Beberapa Sultan setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyatakan menyerah kepada Belanda berusaha untuk memberontak tetapi kesemuanya gagal dan berakhir dengan pembumihangusan bangunan kesultanan untuk menghilangkan simbol-simbol kesultanan. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar, dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.

Kota Palembang telah dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai 'Kota Wisata Air' pada tanggal 27 September 2005. Presiden mengungkapkan bahwa Kota Palembang dapat dijadikan kota wisata air seperti Bangkok, Thailand dan Pnomh Phenh, Kamboja.

Tahun 2008 Kota Palembang menyambut kunjungan wisata dengan nama "Visit Musi 2008".

Keadaan Geografis

Letak Geografis

Secara gografis, Palembang terletak pada 2°59′27.99″LS 104°45′24.24″BT.Luas wilayah Kota Palembang adalah 400,61 Km² atau 40.061 Ha dengan ketinggian rata-rata 8 meter dari permukaan laut. Letak Kota Palembang cukup strategis karena dilalui oleh jalur jalan Lintas Pulau Sumatera yang menghubungkan antar daerah di Pulau Sumatera. Selain itu Kota Palembang juga terdapat Sungai Musi -- yang dilintasi oleh Jembatan Ampera -- yang berfungsi sebagai sarana transportasi dan perdagangan antar wilayah dan merupakan Kota Air yang terdiri dari 16 kecamatan dan 107 kelurahan.

Iklim dan Topografi

Iklim Kota Palembang merupakan iklim daerah tropis dengan angin lembab nisbih, kecepatan angin berkisar antara 2,3 km/jam - 4,5 km/jam. Suhu Kota berkisar antara 23,4 - 31,7 derajat celsius. Curah hujan pertahun berkisar antara 2.000 mm - 3.000 mm. Kelembaban udara berkisar antara 75 - 89 % dengan rata - rata penyinaran matahari 45 %. Topografi tanah relatif datar dan rendah. Hanya sebagian kecil wilayah kota yang tanahnya terletak pada tempat yang agak tinggi yaitu pada bagian utara kota. Sebagian besar tanah adalah daerah berawa sehingga pada saat musim hujan daerah tersebut tergenang. Ketinggian rata-rata 0 - 20 mdpl.

Pada tahun 2002 suhu minimum Kota Palembang terjadi Bulan Oktober 22,70C, tertinggi 24,50C pada bulan Mei, sedangkan suhu maksimum terendah 30,40C pada Bulan Januari dan tertinggi pada Bulan Sepetember 34,30C. Tanah dataran tidak tergenang air : 49 %, Tanah tergenang musiman : 15 %, Tanah tergenang terus menerus : 37 % dan Jumlah sungai yang masih berfungsi 60 buah (dari jumlah sebelumnya 108) sisanya berfungsi sebagai saluran pembuangan primer. Tropis lembab nisbi, Suhu antara 220-320 Celcius, Curah hujan 22-428 mm / tahun, Pengaruh pasang surut antara 3-5 meter, dan Ketinggian tanah rata-rata 12 meter diatas permukaan laut.

Jenis tanah Kota Palembang berlapis alluvial, liat dan berpasir, terletak pada lapisan yang paling muda, banyak mengandung minyak bumi, yang juga dikenal dengan lembah Palembang - Jambi. Tanah relatif datar dan rendah, tempat yang agak tinggi terletak dibagian utara kota. Sebagian kota Palembang digenangi air terlebih lagi bila terjadi hujan terus menerus.

Batas Wilayah

  • Sebelah Utara; dengan Desa Pangkalan Benteng, Desa Gasing dan Desa Kenten, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin
  • Sebelah Selatan; dengan Desa Bakung Kecamatan Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir dan Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim
  • Sebelah Barat; dengan Desa Sukajadi Kecamatan Talang Kelapa Kabupaten Banyuasin
  • Sebelah Timur; dengan Balai Makmur Kecamatan Banyuasin I Kabupaten Banyuasin

Pemerintahan

Kota Palembang dibagi ke dalam 16 kecamatan dan 107 kelurahan, kecamatan-kecamatan tersebut yaitu:

  • Ilir Timur I
  • Ilir Timur II
  • Ilir Barat I
  • Ilir Barat II
  • Seberang Ulu I
  • Seberang Ulu II
  • Sukarame
  • Sako
  • Bukit Kecil
  • Kemuning
  • Kertapati
  • Plaju
  • Gandus
  • Kalidoni
  • Alang-alang lebar
  • Sematang Borang

Penduduk

Penduduk Palembang merupakan cabang dari masyarakat melayu, dan menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa sehari-hari, namun para pendatang daerah seringkali menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari, seperti bahasa komering, rawas, lahat, dsb. Pendatang dari luar Sumatera Selatan terkadang juga menggunakan bahasa daerahnya sebagai bahasa sehari-hari dalam keluarga atau komunitas kedaerahan, seperti pendatang dari Pulau Jawa dan daerah-daerah lain di Indonesia. Namun untuk berkomunikasi dengan warga Palembang lain, penduduk umumnya menggunakan Bahasa Palembang sebagai bahasa pengantar sehari-hari. Selain penduduk Palembang asli, di Palembang terdapat pula warga pendatang dan warga keturunan, warga pendatang seperti dari Pulau Jawa, Madura, Sulawesi (Makassar dan Manado), Papua, Wilayah Sumatera Lainnya. Warga Keturunan terutama Tionghoa, Arab dan India.

Agama mayoritas di Palembang adalah Islam. Selain itu terdapat pula agama Katolik, Protestan, Hindu, Budha, dan Konghucu.

Pariwisata

Olahraga

Stadion Jakabaring yang terdapat di dalam area Gelora Sriwijaya Jakabaring menggelar 2 pertandingan dalam lanjutan Piala Asia AFC 2007, yaitu babak penyisihan grup D antara Arab Saudi dan Bahrain serta perebutan tempat ke-tiga antara Korea Selatan dengan Jepang. Selain itu, Gelora Sriwijaya Jakabaring juga menjadi tempat utama penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional XVI.

Seni dan Budaya

Kesenian yang terdapat di Palembang antara lain:

  • Kesenian Dul Muluk (semacam pentas drama)
  • Tari-tarian seperti Gending Sriwijaya yang diadakan sebagai penyambutan kepada tamu-tamu, dan tari Tanggai yang diperagakan dalam resepsi pernikahan
  • Lagu Daerah seperti Dek Sangke dan Cuk Mak Ilang

Rumah Adat Palembang adalah Rumah Limas dan Rumah Rakit

Kota Palembang mengadakan berbagai festival setiap tahunnya antara lain Festival Sriwijaya setiap bulan Juni memperingati Hari Jadi Kota Palembang, Festival Bidar dan Perahu Hias merayakan Hari Kemerdekaan. Serta berbagai festival memperingati Tahun Baru Hijriah, Bulan Ramadhan, Tahun Baru Masehi, dsb.

Kota Palembang memiliki beberapa wilayah yang menjadi ciri khas dari suatu komunitas seperti Kampung Kapitan yang merupakan wilayah Komunitas Tionghoa dan Kampung Al Munawwar yang merupakan wilayah Komunitas Arab.

Objek Wisata

Tempat-tempat wisata yang layak dikunjungi di Palembang antara lain:

  1. Sungai Musi
  2. Masjid Agung Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang
  3. Jembatan Ampera
  4. Kantor Ledeng (Kantor Walikota)
  5. Kampung Kapitan
  6. Benteng Kuto Besak
  7. Sungai Musi
  8. Kambang Iwak
  9. Hutan Wisata Punti Kayu
  10. Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya
  11. Taman Purbakala Bukit Siguntang
  12. Monumen Perjuangan Rakyat
  13. Museum Balaputradewa
  14. Museum Sultan Mahmud Badaruddin II
  15. Kawah Tekurep
  16. Bagus Kuning
  17. Pusat Kerajinan Songket
  18. Pulau Kemaro
  19. Kilang Minyak Pertamina
  20. Pabrik Pupuk Pusri
  21. SMPN 18
  22. SMAN 1

Pusat-pusat Perbelanjaan

  • Palembang Indah Mall
  • Palembang Trade Center
  • Palembang Square
  • Internasional Plaza
  • Pusat Perbelanjaan Sumatera
  • Pasar 16 Ilir
  • The Fame Citywalk
  • Pusat Perbelanjaan Ramayana
  • JM Plaza
  • Ilir Barat Permai (Songket, Ciri khas Adat Palembang dll)
  • Beberapa Pasar Tradisional seperti Pasar Kuto, Pasar 16 Ilir, Pasar 26 Ilir, Pasar Gubah dsb.

Hotel

Hotel-hotel berbintang di Palembang antara lain: Hotel Novotel Palembang, Hotel Aryaduta Palembang, Hotel Horison Palembang, Quality Hotel Daira Palembang, Hotel Sanjaya, Hotel Swarna Dwipa, Hotel Royal Asia, Hotel Lembang, Hotel Princess dsb.

Transportasi

Warga Palembang mengenal beberapa trayek angkutan kota antara lain:

  • Ampera-Pakjo
  • Ampera-Sekip
  • Ampera-Lemabang
  • Ampera-Perumnas
  • Ampera-Tangga Buntung
  • Ampera-Bukit Besar
  • Ampera-KM 5
  • Ampera-Kertapati
  • Ampera-Plaju
  • Ampera-Pasar Induk
  • Lemabang-Sungai Lais
  • Pasar Kuto-Kenten Laut
  • Pasar Kuto-Perumnas
  • Sayangan-Lemabang
  • Pusri-Simpang Sekip
  • Musi II - Polda

Terdapat pula beberapa trayek Bus Kota yaitu:

  • Perumnas-Kertapati
  • Perumnas-Plaju
  • Pusri-Kertapati
  • Pusri-Plaju
  • Bukit Besar-Kota
  • KM 12-Kertapati
  • KM 12-Plaju

Terdapat pula beberapa merk taksi yang beroperasi di penjuru kota. Selain taksi dan angkutan kota di Palembang dapat ditemukan bajaj yang berperan sebagai angkutan perumahan, dimana setiap bajaj memiliki kode warna tertentu yang hanya boleh beroperasi di wilayah tertentu di Kota Palembang. Sebagai sebuah kota yang dilalui oleh beberapa sungai besar, masyarakat Palembang juga mengenal angkutan air, yang disebut getek. Getek ini melayani penyeberangan sungai melalui berbagai dermaga di sepanjang Sungai Musi, Ogan dan Komering. Baru-baru ini telah dibuka jalur kereta komuter yang diperuntukkan bagi mahasiswa Universitas Sriwijaya yang melayani jalur Kertapati-Indralaya.

Palembang memiliki sebuah Bandara Internasional yaitu Bandar Udara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II (SMB II). Bandara ini terletak di barat laut Palembang, melayani baik penerbangan domestik maupun internasional (sejak runway di perpanjang). Bandara ini juga menjadi embarkasi haji bagi warga Sumatera Selatan. Penerbangan domestik melayani jalur Palembang ke Jakarta, Bandung, Batam, Pangkal Pinang dan kota-kota lainnya, penerbangan internasional melayani Singapura, Kuala Lumpur, Malaka, China, thailand.

Palembang mempunyai jalan tol kayu agung-palembang-bandara internasional sultan mahmud badaruddin II jalan tol ini mempercepat akses ke bandara dan kayu agung.

Palembang juga memiliki sebuah pelabuhan yaitu Boom Baru, Pelabuhan 36 Ilir,dan Pelabuhan Tanjung Api Api 3 pelabuhan ini melayani pengangkutan penumpang menggunakan feri ke Muntok (Bangka) dan Batam. Saat ini sedang dibangun pelabuhan Tanjung Api-api yang melayani pengangkutan penumpang dan barang masuk dan keluar Sumatera Selatan.


Jembatan Ampera

Jembatan Ampera dibangun di atas sungai Musi dengan panjang 1177 meter, lebar 22 meter, dan tinggi di atas permukaan air 11,5 meter. Dengan dana rampasan perang dari Pemerintah Jepang atas perintah Soekarno. Di bangun pada tahun 1962 dan selesai pada tahun 1964
Orang menyebutnya Jembatan AMPERA karena pemakaiannya secara resmi dilakukan disaat masa menegakkan orde baru yang sebelumnya bernama Jembatan Musi. Jembatan AMPERA berarti Jembatan Amanat Penderitaan Rakyat.
Bagian tengah jembatan ini dulu dapat diangkat dan dilalui kapal yang tingginya maksimum 44,5 meter sedangkan bila tidak diangkat hanya 9 meter, namun pada saat ini mobilitas penduduk semakin tinggi dan jumlah kendaraan bertambah banyak serta dasar lain yang bersifat teknis maka tahun 1970an jembatan tersebut tidak dapat dinaikkan bagian tengahnya.

Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera)

Bangunan ini terletak di pusat kota tepatnya di depan Mesjid Agung. Lokasi tersebut dulunya basis pertempuran Lima Hari Lima Malam. Peletakan batu pertama dan pemancangan tiang bangunan pada tanggal 17 Agustus 1975 dan diresmikan pada tanggal 23 Februari 1988 oleh Menko Kesra Alamsyah Ratu Prawira Negara.
Monumen ini dibangun untuk mengenang perjuangan rakyat Sumatera Selatan ketika melawan kaum penjajah pada masa revolusi fisik yang dikenal dengan Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang yang pecah pada tanggal 1 Januari 1947 yang melibatkan seluruh rakyat Palembang melawan Belanda.
Di dalam museum ini kita melihat berbagai jenis senjata yang dipergunakan dalam pertempuran tersebut termasuk berbagai dokumen perang dan benda-benda bersejarah lainnya.

Museum Sultan Mahmud Badaruddin II

Bangunan yang dibangun kembali dan dibongkar habis dan memang sebelumnya merupakan lokasi Benteng Kuto Lamo berdiri keraton Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau Sultan Mahmud Badaruddin I (1724-1758).
Tahun 1821 keraton ini mendapat serangan dari Pemerintah Belanda dan pada tanggal 7 Oktober 1823 oleh Reguting Commisaris Belanda J.L Van Seven House diperintahkan bongkar habis untuk menghilangkan monumental Kesultanan Palembang dan membalas dendam atas dibakarnya loji Sungai Aur oleh Sultan Mahmud Badaruddin I pada tahun 1811. Bangunan ini selesai tahun 1825 dan selanjutnya dijadikan komisariat Pemerintah Hindia Belanda untuk Sumatera Bagian Selatan sekaligus sebagai kantor Residen.
Pada tahun 1942-1945 gedung ini dikuasai oleh Jepang dan setelah Proklamasi Kemerdekaan RI kembali dikuasai pemerintah RI, pada tahun 1949 gedung tersebut dijadikan kantor Toritorium II Sriwijaya dan tahun 1960-1974 digunakan sebagai Resimen Induk IV Sriwijaya.
Berdasarkan hasil penelitian dari Tim Arkeologi Nasional tahun 1988 ditemukan pondasi batubata dari Kuto Lamo di atas tumpukan balok-balok kayu yang terbakar di lokasi tersebut. Menurut perhitungan bangunan Benteng Kuto Lamo dimasa Sultan Mahmud Badaruddin I resmi ditempati pada hari Senin tanggal 29 September 1737 maka balok-balok itu umurnya lebih dari itu. Nama Museum Sultan Mahmud Badaruddin diabadikan untuk mengingat dan menghargai jasa-jasanya.

Benteng Kuto Besak

Bangunan ini dibangun selama 17 tahun dimulai pada tahun 1780 dan diresmikan pemakaiannya pada hari Senin tanggal 21 Februari 1797. Pemrakarsa pembangunan benteng ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin (17244-1758) dan pembangunan dilaksanakan oleh Sultan Mahmud Badaruddin, sebagai pengawas pembangunan dipercayakan pada orang-orang Cina.
Benteng Kuto Besak mempunyai ukuran panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter dan tinggi 9,99 meter (30 kaki) serta tebal 1,99 meter (60 kaki). Di setiap sudutnya terdapat bastion yang terletak di sudut Barat Laut bentuknya berbeda dengan tiga bastion lainnya.
Tiga bastion yang sama tersebut merupakan ciri khas bastion benteng Kuto Besak, di sisi Timur dan Selatan dan Barat terdapat pintu masuk Benteng, pintu masuk gerbang utama yang menghadap sungai Musi disebut Lawang Kuto dan pintu masuk lainnya disebut Lawang Buritan.

Rumah Rakit

Rumah Rakit merupakan rumah yang mengapung di atas Sungai Musi. Rumah ini terbuat dari kayu dan bambu dengan atap kajang (nipah), sirap dan belakangan ini dengan atap seng (bahan yang lebih ringan). Rumah Rakit adalah bentuk rumah yang tertua di Kota Palembang dan mungkin telah ada pada zaman Kerajaan Sriwijaya. Dalam komik China seperti sejarah Dinasty Ming (1368-1643) buku 324, ditulis mengenai rumah rakit yang bentuknya tidak banyak berubah.
Pada zaman kesultanan Palembang, semua warga asing harus menetap di atas rakit termasuk warga Inggris, Spanyol, Belanda, Cina, Campa, Siam, bahkan kantor Dagang Belanda pertama di atas rakit lengkap dengan gudangnya. Rumah Rakit ini selain sebagai tempat tinggal juga berfungsi juga sebagai gudang industri kerajinan. Bahkan pada tahun 1900 an dibangun Rumah Sakit diatas rakit, karena dianggap mereka lebih sehat dan indah karena dapat melihat kehidupan di sepanjang Sungai Musi

Rumah Limas

Rumah Limas merupakan prototipe rumah tradisional Palembang. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima di teras atau lantai kedua.

Kebanyakan rumah limas luasnya mencapai 400 sampai 1000 meter persegi atau lebih, yang didirikan di atas tiang-tiang dari kayu unglen atau ulin yang kuat dan tahan air.

Dinding, pintu dan lantai umumnya terbuat dari kayu tembesu. Sedangkan untuk rangka digunakan kayu seru.

Setiap rumah terutama dinding dan pintu diberi ukiran. Saat ini rumah limas sudah mulai jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa. Hampir di tiap pelosok kota terdapat rumah limas yang umumnya sudah tua, termasuk sebuah rumah limas di Museum Balaputra Dewa.

Sungai Musi

Sungai Musi ini panjangnya 460 km membelah Propinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat yang bercabang-cabang dengan delapan anak sungai besar yaitu : Sungai Komering, Ogan, Lematang, Kelingi, Lakitan Semangus, Rawas, dan Batanghari Leko. Karena ini Sumatera Selatan dikenal dengan julukan Batanghari Sembilan.
Mengapa dinamai Sungai Musi dan kapan nama tersebut mulai dipakai, tidak ada yang tahu pasti. Nama Musi ini terdapat di India, terjadinya hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan di India atau nama tersebut diambil dari salah satu bahasa daerah Kayuagung \"Musi Beraerti Ikut\" Apakah Musi berarti aliran masih perlu penelitian lebih lanjut.
Apakah nama tersebut ada pada saat menelusuri Sungai Musi ini dapat melihat pemukiman penduduk seperti Rumah Rakit, PT Pusri, Pertamina, Daerah Bagus Kuning, Masjid Lawang Kidul, Masjid Ki Meorgan, Benteng Kuto Besak, Warung Terapung, dan kegiatan masyarakat di sepanjang Sungai Musi tersebut.
Di perairan Sungai Musi ini pada setiap hari jadi Kota Palembang dan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI diadakanla lomba Perahu Bidar dan Perahu Motor Hias. Masyarakat yang menyaksikan peristiwa tidak hanya masyarakat kota Palembang tetapi juga masyarakat luar kota Palembang bahkan wisatawan mancanegara.
Untuk menikamti keindahan Sungai Musi dapat menggunakan Ketek, Speed Boat, atau untuk rombongan dengan jumlah besar dapat menggunakan Kapal Wisata Segentar Alam dan Kapal Putri Kembang Dadar.

Hutan Wisata Punti Kayu

Hutan Wisata Punti Kayu ini dapat dijangkau dengan kendaraan umum trayek km 12 yang letaknya sekitar 7 km dari pusat kotadengan luas sekitar 50ha. Sejak tahun 1938 telah ditetapkan sebagai hutan lindung.
Sejak tahun 1986 hasil kesepakatan antara propinsi Sumatera Selatan dan Departemen Kehutanan, Hutan Wisata Punti Kayu menjadi Hutan Wisata dengan menambah beberapa sarana wisata.
Taman Wisata Punti Kayu dibagi atas 4 wilayah yaitu :

  • Wilayah taman rekreasi yang mempunyai fasilitas :
    1. Kolam Renang
    2. Tempat berteduh
    3. Pos Keamanan dan Pos Informasi
    4. Kebun Binatang
    5. Sarana Olahraga
    6. Ruang Serbaguna
  • Wilayah hutan lindung
  • Wilayah Perkemahan
  • Wilayah danau dan rawa

Pulau Kemaro

Di tengah Sungai Musi terdapat sebuah pulau bernama Pulau Kemaro. Nama tersebut berarti pulau yang tidak pernah tergenang air, walaupun air pasang besar, pulau tersebut tidak akan kebanjiran dan akan terlihat dari kejauhan terapung-apung di atas perairan Sungai Musi.
Pulau ini mempunyai legenda tentang kisah cinta Siti Fatimah putri Raja Palembang yang dilamar oleh Anak Raja China bernama Tan Bun Ann. Syarat yang diajukan Siti Fatimah pada Tan Bun Ann adalah menyediakan 9 guci berisi emas, keluarga Tan Bun Ann menerima syarat yang diajukan. Untuk menghindari bajak laut saat di perjalanan membawa emas dari negeri China maka emas yang didalam guci terebut ditutupi dengan asinan dan sayur, ketika kapal tersebut tiba di Palembang Tan Bun Ann memeriksa guci tersebut yang telah ditutupi asinan dan sayur, dengan rasa marah dan kecewa maka seluruh guci tersebut dibuangnya ke Sungai Musi, tetapi pada guci yang terakhir terhempas pada dinding kapal dan pecah berantakan sehingga terlihatlah kepingan emas yang ada di dalamnya.
Rasa penyesalan membuat anak Raja China tersebut mengabil keputusan untuk menerjunkan diri ke Sungai dan tenggelam. Melihat tersebut, Siti Fatimah ikut menerjunkan diri ke sungai sambil berkata \"Jika ada tanah yang tumbuh di tepi sungai ini maka disitulah kuburan saya\".
Di pulau ini terdapat sebuah kelenteng Budha yang selalu dikunjungi penganutnya terutama pada perayaan Cap Go Meh yang tidak hanya masyarakat keturunan Tiong Hoa di kota Palembang tetapi dari berbagai daerah di Indonesia bahkan mancanegara seperti Singapura, Hongkong, RRC, dan lain-lain. Kita dapat ke pulau ini dengan menggunakan transportasi air seperti Ketek, Speed Boat, Kapal Wisata Putri Kembang Dadar, Sigentar Alam, dan Perahu Naga dari dermaga wisata Benteng Kuto Besak atau dari parbrik Intirub

Bukit Siguntang

Daerah ini terletak di atas ketinggian 27 meter dari permukaan laut, tepat di Kelurahan Bukit Lama. Tempat ini sampai sekarang masih tetap dikeramatkan karena disini terdapat beberapa makam diantaranya :

  1. Raja Si Gentar Alam
  2. Putri Kembang Dadar
  3. Putri Rambut Selako
  4. Panglima Bagus Kuning
  5. Panglima Bagus Karang
  6. Panglima Tuan Junjungan
  7. Panglima Raja Batu Api
  8. Panglima Jago Lawang

Berdasarkan hasil penemuang pada tahun1920 di sekitar bukit ini telah ditemukan sebuah patung (arca) Budha bergaya seni Amarawati yang raut wajah Srilangka berasal dari abad XI masehi yang sekarang diletakkan di halaman Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Kita dapat melihat panorama kota Palembang dari ketinggian Bukit Siguntang dengan menempuh kendaraan umum jurusan bukit besar.

Taman Arkeologi Kerajaan Sriwijaya

Taman ini dibagun di atas situs Karang Anyar yang didasari konsep-konsep pelestarian dan pemanfaatan peninggalan purbakala. Peresmiannya dilakukan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 22 Desember 1994. Ditandai dengan peletakan kembali replica Kedukan Bukit yang merupakan tonggak sejarah lahirnya Kerajaan Sriwijaya.
Berdasarkan interprestasi foto udara situs Karang Anyar merupakan bangunan air yang penting pada masa awal kerajaan Sriwijaya dan ditemukan juga sisa-sisa bangunan bata, fragmen-fragmen, gerabah, keramik, sisa perahu, dan benda-benda sejarah lainnya.
Didalam lokasi taman ini terdapat tiga gedung utama yaitu, gedung museum yang menyimpan arkeologi peninggalan Sriwijaya dan perahunya. Dalam perkembangan sejarah kuno Indonesia meliputi kurun waktu ke 7-13M. Gedung Pendopo Agung untuk keperluan pameran-pameran, temporer, seminar, dan lain-lain. Dan gedung prasasti yang menyimpan replica prasasti Kedukan Bukit serta prasasti peresmian Taman Purbakala ini. Di samping itu di pulau Gempaka terdapat Disflag berupa struktur bata hasil eksavasi. Dalam lingkungan taman ini juga terdapat kanal-kanal.

Kawah Tengkurep

Bangunan ini mempunyai atap dari beton yang berbentuk kuali tertelungkup/terbalik. Tempat ini dibangun pada tahun 1756 oleh Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (Sultan Mahmud Badaruddin I) yang memerintah pada tahun 1724-1758.
Di komplek ini selain Sultan Mahmud Badaruddin I dimakamkan juga Imam (guru beliau) yaitu Imam Sayid Idrus Al Idrus yang berasal dari Yaman Selatan serta para istri beliau yaitu :

  1. Ratu Sepuh
  2. Ratu Agung
  3. Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio)
  4. Nyimas Naimah

Makam Ki Gede Ing Suro

Makam Ki Gede Ing Suro terletak di Kelurahan 1 Ilir Kecamatan Ilir Timur II dibangun pada pertengahan abad XVI. Disini terdapat 8 bangunan yang berisi 38 buah kuburan diantaranya terdapat kuburan Ki Gede Ing Suro yang merupakan cikal bakal Rara-raja Palembang.
Menurut sejarah pada abad 16, seorang bangsawan Jawa bernama Sido Ing lautan datang ke Palembang bersama para pengikutnya. Kemudian beliau digantikan oleh puteranya yang bernama Ki Gede Ing Suro pada tahun 1552 dan mendirikan Kerajaan Palembang.
Oleh karena itu beliau tidak mempunyai putra maka ia mengangkat keponakannya yang bernama Ki Mas Anom untuk memegang kekuasaan Kerajaan Palembang dengan gelar Ki Gede Ing Suro Mudo. Sekitar tahun 1565-1567 Ki Gede Ing Suro Mudo serta pengikutnya meninggal dunia dan dikebumikan di komplek perkuburan ini.

Mesjid Agung

Peletakan batu pertama pembangunan masjid ini dilakukan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang dimulai 1 Jumadil Akhir 1151 H (1738) dan diresmikan pada 28 Jumadil Awal 1161 (26 Mei 1748). Mesjid ini dulunya dikenal dengan nama Mesjid Sultan yang lokasi dibangunnya terletak di \"pulau\" yang dikelilingi sungai, sebelah Selatan Sungai Musi, sebelah barat Sungai Sekanak, sebelah Timur Sungai Tengkuruk, dan sebelah Utara Sungai Kapuran.
Puncak Mesjid Agung berbentuk atap Mustaka/kepala. Bentuk mustaka yang terjurai ini melengkung ke atas keempat ujungnya menyerupai bentuk atap pada bangunan Cina. Menara pertama dibangun bagian kiri Masjid arah Selatan (Jalan Merdeka) pada tahun 1753 dengan ukuran tinggi 30 M dan garis tengah 3 M.
Pada tahun 1897 telah diadakan perombakan mesjid untuk perluasan Entrance Hall berbentuk gaya Doric dibongkar. Ditambah serambi yang terbukan dengan tiang-tiang beton bulat, sehingga bentuknya seperti serambi pendopo atau seperti gaya bangunan kolonial. Ini adalah yang pertama dan memberikan ruangan tambahan. Pada tanggal 2 Januari 1970 dibangun menara kedua dengan ukuran tinggi 45 M berbentuk persegi 12 dibiayai oleh Pertamina dan diresmikan pada tanggal 1 Februari 1971.

Museum Balaputra Dewa

Museum ini dibangun pada tahun 1977 dengan arsitektur tradisional Palembang di atas areal seluas 23.565 meter persegi dan diresmikan pada tanggal 5 November 1984. Pada mulanya museum ini bernama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan selanjutnya berdasarkan SK Menteri Pendidikan dan Kebudayaan no. 1223/1990 tanggal 4 April 1990. Museum ini diberi nama Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan Bala Putra Dewa.
Nama Bala Putra Dewa berasal dari nama seorang raja Sriwijaya yang memerintah pada abad VIII hingga IX yang mencapai kerajaan maritim. Di museum ini terdapat koleksi yang menggambarkan corak ragam kebudayaan dan alam Sumatera Selatan. Koleksinya terdiri dari berbagai benda histografi, etnografi, felologi, keramik, teknologi modern, seni rupa, flora, dan fauna serta geologi. Selain itu terdapat rumah Limas dan Rumah ulu asli, kita dapat mengunjunginya dengan menggunakan kendaraan umum trayek km 12.

Bagus Kuning

Dareah ini terletak di Kecamatan Seberang Ulu II tepatnya di Komplek Bagus Kuning Plaju yang merupakan Makam Ratu Bagus Kuning orang yang sakti dan sebagai penyambung risalah Rasulullah melalui para wali untuk menyebarkan agama Islam di daerah yang dikuasainya yaitu Kawasan Batanghari Sembilan Pada abad ke XVI.
Beliau mempunyai pengikut atau penghulu sebanyak 11 orang yaitu :

  1. Penghulu Gede
  2. Datuk Buyung
  3. Kuncung Emas
  4. Panglima Bisu
  5. Panglima Apo
  6. Syekh AliAkbar
  7. Syekh Maulana Malik ibrahim
  8. Syekh Idrus
  9. Putri Kembang Dadar
  10. Putri Rambut Selako
  11. Bujang juaro

Ratu Bagus Kuning hingga akhir hayatnya tidak pernah menikah dan tidak pernah haid (tetap suci), selain itu kita dapat melihat monyet/kera jinak yang menurut cerita keturunan siluman kera yang pada waktu bertanding dengan Ratu Bagus Kuning mengalami kekalahan sehingga siluman kera bersumpah keturunannya akan menjadi pengikut setia Ratu Bagus Kuning. Hingga saat ini kera-kera tersebut ada dan jumlahnya tetap tidak kelihatan bertambah.

Masjid Merogan & Masjid Lawang Kidul

Kedua masjid ini dibangun dalam waktu hampir bersamaan pada tahun 1310 H oleh Kyai Merogan (Mgs. H. Abdul Hamid Bin Mgs. Mahmud) dengan menggunakan biaya sendiri.
Sebagai seolang ulama yang memiliki pandangan kedepan beliau mendirikan Rumah Allah dengan membuat pernyataan tertulis disebut \"Najar Mujai Lillahi Ta\'ala\" naskah tersebut tertanggal 6 Syawa 1310. Masjid Ki Merogan berada di tepian Sungai Ogan Kecamatan Kertapati sedangkan Masjid Lawang Kidul berada di tepi Sungai Musi daerah Seberang ilir Kelurahan 5 Ilir.
Kedua bentuk masjid ini serupa sekalipun pendiri kedua masjid itu wafat tetai sampai dengan saat ini tetap ramai dikunjungi orang karena makam beliau di lokasi Masjid Ki Merogan dianggap keramat dan ada beberapa kisah menarik pada saat beliau masih hidup.

Post a Comment

Google+ Followers