Wednesday, 30 September 2009

KOMUNIKASI DALAM ARSITEKTUR POST-MODERN

1. Pendahuluan

Pada tahun antara 1960-1970 gerakan Arsitektur Modern (dikenal dengan nama

Modern Movement) mulai memperlihatkan tanda-tanda berakhir. Gerakan yang bertahan

selama tiga generasi ini telah melewati tiga tahap perkembangan yaitu Early Modernism,

High Modernism, dan Late Modernism (Trachtenberg, 1987).

Early Modernism diwarnai dengan karya-karya Frank Lloyd Wright (1869-1959) yang

kebanyakan merupakan rumah tinggal serta lahirnya sekolah arsitektur The Chicago School

di Amerika Serikat. Tahap ini juga diwarnai oleh karya-karya Louis Sullivan, arsitek besar

yang terkenal dengan dictum Form Follows Function-nya.

High Modernism yang lahir setelah Perang Dunia I diisi oleh arsitek-arsitek besar

dunia yang pindah dari negara asalnya ke Amerika Serikat, yaitu Ludwig Mies van der Rohe,

Le Corbusier, dan Walter Gropius. Mereka dikenal dengan sebutan arsitek Avant-garde yang

karya-karyanya memiliki nilai kemanusiaan, ekspresionisme, dan idealisme.

Late Modernism lahir setelah Perang Dunia II, ditandai dengan karya-karya

bangunan pencakar langit (sky craper) dengan melibatkan teknologi canggih (hi-tech).

Beberapa arsitek yang terkenal pada periode ini adalah Hugh Stubbins, I.M. Pei, Raymond

Hood, dan tiga serangkai Skidmore, Owings, dan Merril.

Berakhirnya era Arsitektur Modern ini diawali dengan dihancurkannya Pruitt-Igoe

Housing di kota St. Louis, negara bagian Missouri, Amerika Serikat, pada tanggal 15 Juli

1972 jam 15.32 (Jenks, 1984). Kematian Arsitektur Modern yang lahir pada tahun 1890-an ini

sangat ironis, karena perumahan Pruitt-Igoe dibangun berdasarkan ide dari CIAM (Congres

Internationaux d’Architecture Moderne) dan telah memenangkan penghargaan dari AIA (the

American Institute of Architecs) pada tahun 1961. Padahal keberadaan CIAM sendiri

dimaksudkan sebagai wadah yang membuat aturan perancangan dan mengontrol

pelaksanaan pembangunannya (Giedeon,1982).

Kegagalan bangunan tersebut membuktikan bahwa dasar filosofi dan teori Arsitektur

Modern sudah tidak relevan lagi dengan tuntutan zaman. Doktrin-doktrin seperti

Rasionalisme, Behaviorisme, dan Pragmatisme yang mendasari pertumbuhan Arsitektur

Modern dianggap sudah tidak rasional lagi.

2. Lahirnya Arsitektur Post-Modern

Istilah Post-Modern sebenarnya sudah dikenal sejak pertengahan tahun 1970-an,

tidak hanya di dunia arsitektur tetapi juga pada dunia seni lukis, tari, patung, film, dan bahkan

ideologi. Pada dasarnya Post-Modern merupakan reaksi (anti-thesis) dari Modernisme

(thesis) yang sudah berjalan sangat lama. Irwing Howe menggambarkannya sebagai “the

radical breakdown of the modernist”, jadi keduanya memang tidak bisa dipisahkan satu sama

lain dan berkelanjutan.

Post-Modern bukanlah gerakan revolusioner yang ingin lepas dan membuang nilai-

nilai Modernisme (Stern,1980). Perkembangan Post-Modernisme bahkan sangat dipengaruhi

oleh Modernisme. Di dunia arsitektur sendiri gerakan ini sering disebut sebagai Beyond the

Modern Movement karena memang berkembang setelah Modern Movement. Tetapi ada juga

yang menyebutnya sebagai Super-mannerism karena merupakan kelanjutan dari

Mannerisme pada era Renaissance di Italy yang melahirkan arsitek-arsitek besar seperti

Michel Angelo (1475-1564), Andrea Palladio (1508-1580), Donato Bramante (1444-1514) dan

Giulio Romano.

Charles Jenks seorang tokoh pencetus lahirnya Post-Modern menyebutkan adanya

3 alasan yang mendasari timbulnya Post-Modernisme, yaitu :

1. Kehidupan kita sudah berkembang dari dunia serba terbatas ke desa-dunia (world village)

yang tanpa batas. Perkembangan ini disebabkan oleh cepatnya komunikasi dan tingginya

daya tiru manusia (instant eclectism).

2. Canggihnya teknologi telah memungkinkan dihasilkannya produk-produk yang bersifat

pribadi (personalised production), lebih dari sekedar produksi massal dan tiruan massal

(mass production and mass repetition) yang merupakan ciri khas dari Modernisme.

3. Adanya kecenderungan untuk kembali kepada nilai-nilai tradisional (traditional values)

atau daerah, sebuah kecenderungan manusia untuk menoleh ke belakang.

Dengan demikian, Arsitektur Post-Modern adalah percampuran antara tradisional

dengan non-tradisional, gabungan setengah modern dengan setengah non-modern,

perpaduan antara lama dan baru. Arsitektur Post-Modern mempunyai style yang hybrid

(perpaduan dua unsur) dan bermuka ganda atau sering disebut sebagai double coding.

Timbulnya era baru ini dapat juga dilihat sebagai hasil kombinasi antara Romantic dan

Modernist, yang pertama menunjukkan keragaman budaya sedangkan yang kedua

memperlihatkan kesamaan budaya yang universal (Stern,1980).

Dualisme lain yang dihadapi adalah memadukan antara Elitisme (golongan

elit/minoritas) dengan Populisme (masyarakat umum), dimana kebutuhan keduanya harus

dapat dipenuhi. Dalam masyarakat tradisional, usaha memadukan dua unsur ini tidak begitu

sulit karena mereka memiliki bahasa arsitektur yang sama. Tetapi dalam budaya pluralis

seperti yang kita hadapi sekarang ini akan lebih sukar karena latar belakang yang berlainan.

3. Unsur Komunikasi dalam Arsitektur Post-Modern

Munculnya dualisme atau double-coding arsitektur sebenarnya lebih dikarenakan para

Arsitek Post-Modern ingin berkomunikasi lewat karya-karyanya. Arsitek telah menyadari

adanya kesenjangan antara kaum elite pembuat lingkungan (baca:arsitek) dengan orang

awam yang menghuni lingkungan. Arsitek berkeinginan mengajak masyarakat awam untuk

memahami karyanya dengan cara berkomunikasi, oleh sebab itu diperlukan pemahaman dan

pemakaian bahasa yang benar seperti halnya dalam bahasa percakapan.

Dalam hubungannya dengan komunikasi, di dalam dunia arsitektur dikenal sebuah

ilmu yang dinamakan Semiotics (semiontika) yang merupakan studi hubungan antara sign

(tanda) dengan symbols dan bagaimana manusia memberikan meaning (arti) antara

keduanya. Contohnya adalah sebagai berikut, sebuah kubah dipakai sebagai tanda untuk

masjid, dalam jangka panjang tanda ini berubah menjadi simbol sehingga akhirnya kubah

adalah simbol masjid.

Disamping itu ada juga Syntax (sintaksis) yaitu aturan-aturan mengenai pemakaian

bentuk elemen bangunan (pintu, jendela, dll). Contohnya untuk sebuah bangunan

perkantoran pemakaian pintu dan jendela mestinya berbentuk persegi panjang.

Pada Arsitektur Post-Modern, bahasa tidaklah selalu tetap melainkan berubah sesuai

dengan waktu dan tuntutan zaman. Pada suatu waktu, sintaksis akan berubah sehingga

manusia akan mempunyai persepsi lain tentang suatu bentuk elemen bangunan. Demikian

juga simbol bangunan akan dapat berubah juga, misalnya bangunan kantor tidak selamanya

harus berkonstruksi rangka dengan kaca sebagai unsur utamanya atau sebuah masjid tidak

harus berbentuk kubah. Pemahaman tentang (bentuk) arsitektur sudah tidak didasarkan lagi

pada pengalaman (historik) dan kebiasaan.

4. Ciri-ciri dan Aliran yang Berkembang

Dua ciri pokok Arsitektur Post-Modern adalah anti rasional dan neo-sculptural,

berbeda dengan Arsitektur Modern yang rasional dan fungsional. Ciri-ciri bangunan yang

sculptural sangat menonjol karena dihiasi dengan ornamen-ornamen dari zaman Baroque

dan Renaissance. Budi Sukada (1988) menyebutkan ada 10 ciri Arsitektur Post-Modern,

yaitu:

1. Mengandung unsur-unsur komunikatif yang bersifat lokal atau populer

2. Membangkitkan kembali kenangan historik

3. Berkonteks urban

4. Menerapkan kembali teknik ornamentasi

5. Bersifat representasional

6. Berwujud metaforik (dapat berarti bentuk lain)

7. Dihasilkan dari partisipasi

8. Mencerminkan aspirasi umum

9. Bersifat plural

10. Bersifat eklektik

Untuk dapat dikategorikan sebagai Arsitektur Post-Modern tidak harus memenuhi kesepuluh

ciri diatas. Sebuah karya arsitektur yang mempunyai enam atau tujuh ciri di atas sudah dapat

dikatagorikan ke dalam Arsitektur Post-Modern.

Aliran-aliran Arsitektur Post-Modern dibedakan berdasarkan konsep perancangan dan

reaksi terhadap lingkungannya. Di dalam evolutionary tree-nya, Charles Jenks

mengelompokkan Arsitektur Post-Modern menjadi 6 (enam) aliran. Aliran-aliran ini

menurutnya sudah mulai sejak tahun 1960-an. Keenam aliran tersebut adalah :

1. Historicism

Pemakaian elemen-elemen klasik (misalnya Ionic, Doric, dan Corinthian) pada bangunan,

yang digabungkan dengan pola-pola modern.

Contoh : Aero Saarinen, Phillip Johnson, Robert Venturi, Kisho Kurokawa,

Kyonori Kikutake.

2. Straight Revivalism

Pembangkitan kembali langgam neo-klasik ke dalam bangunan yang bersifat

monumental dengan irama komposisi yang berulang dan simetris.

Contoh : Aldo Rossi, Monta Mozuna, Ricardo Bofill, Mario Botta.

3. Neo-Vernacularism

Menghidupkan kembali suasana atau elemen tradisional dengan membuat bentuk dan

pola-pola bangunan lokal.

Contoh : Darbourne & Darke, Joseph Esherick, Aldo van Eyck.

4. Contextualism (Urbanist + Ad Hoc)

Memperhatikan lingkungan dalam penempatan bangunan sehingga didapatkan

komposisi lingkungan yang serasi. Aliran ini sering juga disebut dengan Urbanism.

Contoh : Lucien Kroll, Leon Krier, James Stirling.

5. Metaphor & Metaphisical

Mengekspresikan secara eksplisit dan implisit ungkapan metafora dan metafisika

(spiritual) ke dalam bentuk bangunan.

Contoh : Stanley Tigerman, Antonio Gaudi, Mimoru Takeyama.

6. Post-Modern Space

Memperlihatkan pembentukan ruang dengan mengkomposisikan komponen bangunan

itu sendiri.

Contoh : Peter Eisenman, Robert Stern, Charles Moore, Kohn, Pederson-Fox.

5. Penutup

Arsitektur Post-Modern mempunyai dua muka yang berbeda yang masing-masing

mempunyai arti (dual-coding atau mixture of meaning). Ia mewakili dua kutub yang berbeda :

kaum populis dan elitis, Romantic dan Modernist, yang mempunyai dua bahasa yang

berbeda dan masing-masing berbicara mengenai soal yang berbeda pula. Melalui unsur

komunikasi dalam Arsitektur post-modern arsitek menjadi lebih dekat dengan konteks

geografis dan budaya setempat sehingga masyarakat tidak merasa asing dengan lingkungan

binaannya sendiri.



Daftar Pustaka

Gideon, S, Space, Time, and Architecture, Harvard University Press, Cambridge, 1982.

Jenks, Charles, The Language of Post-Modern Architecture, Rizolli, New York, 1984.

Simon and Schuster, The Pocket Guide to Architecture, Mitchell Beazly Publisher Ltd.,

New York, 1980.

Stern, Robert, The Doubles of Post-Modern, dalam buku Beyond the Modern Movement,

MIT Press, Cambridge, 1980.

Sukada, Budi, Analisis Komposisi Formal Arsitektur Post-Modern, Seminar FTUI-Depok,

Jakarta, 1988.

Trachtenberg dan Hyman, Architecture from Prehistory to Post-Modernism, Harry

Abrams Inc., New York, 1986.

Post a Comment

Google+ Followers