Saturday, 28 February 2009



ini adalah suasana kota palembang pada era lama,fhoto ini menggambarkan keadaan jembatan ampera yang masih bisa berfungsi, tetapi sayangnya ini tidak lagi dapat dilihat karena kondisi jembatan yang idak memungkinkan.

mekkah
















Friday, 26 December 2008

Tanam Jagung

Tanam Jagung

Seorang Papua dari Kabupaten Wamena, menulis surat ke anaknya yang ada di penjara Buru karena dituduh terlibat OPM. Bunyinya: "Nemo, bapakmu sudah tua, sekarang sedang musim tanam jagung, dan kamu ditahan di penjara pula, siapa yang mau bantu bapak mencangkul kebun ini?"

Eh, anaknya membalas surat tersebut beberapa minggu kemudian. "Demi Tuhan, jangan cangkul itu kebun, saya tanam senjata di sanam," kata si anak dalam surat tersebut.

Rupanya surat itu disensor pihak rumah tahanan, maka keesokan harinya, datang satu pleton tentara dari Kota Jayapura.

Tanpa banyak bicara mereka segera ke kebun singkong dan sibuk mencangkul tanah di kebun tersebut. Setelah mereka pergi, kembali si bapak tulis surat ke anaknya. "Nemo, setelah bapak terima suratmu, datang satu pleton tentara mencari senjata di kebun jagung kita, namun tanpa hasil. Apa yang harus bapak lakukan sekarang?"

Si anak kembali membalas surat tersebut, "Sekarang bapak mulai menanam jagung aja, kan sudah dicangkul sama tentara, dan jangan lupa ngucapin terimakasih sama mereka." Pihak rumah tahanan yang menyensor surat ini langsung pingsan. (ahm)

Peluru pun Habis

Peluru pun Habis

Ini cerita Gus Dur tentang situasi Rusia tak lama setelah bubarnya Uni Soviet. Sosialisme hancur, dan para birokrat tak punya pengalaman mengelola sistem ekonomi pasar bebas. Di masa sosialisme memang rakyat sering harus antre untuk mendapatkan macam-macam kebutuhan pokok, tapi karena manajemennya jelek, antrean umumnya sangat panjang, dan banyak yang tidak kebagian jatah.

Begitulah, seorang aktivis sosial berkeliling kota Moskow untuk mengamati bagaimana sistem baru itu bekerja. Di sebuah antrean roti, setelah melihat banyaknya orang yang tidak kebagian, aktivis itu menulis di buku catatannya, "Roti habis"

Lalu dia pergi ke antrean bahan bakar. Lebih banyak lagi yang tak kebagian. Dan dia mencatat, "Bahan bakar habis!" Kemudian dia menuju antrean sabun.

Wah, pemerintah kapitalis baru ini betul-betul berengsek. Banyak sekali masyarakat yang tidak kebagian mendapat jatah sabun. Dia menulis besar-besar, "Sabun habis!"

Tanpa dia sadari, rupanya dia diikuti oleh seorang intel KGB. Ketika dia akan meninggalkan antrean sabun itu, si intel menegur.

"Hei bung! Dari tadi kamu sibuk mencatat-catat terus. Apa sih yang kamu catat?"

Sang aktivis menceritakan bahwa dia sedang melakukan penelitian tentang kemampuan pemerintah dalam mendistribusikan barang bagi rakyat.

"Untung kamu ya, sekarang sudah jamar reformasi," ujar sang intel. "Kalau dulu, kamu sudah ditembak."

Sambil melangkah pergi aktivis itu mencatat: "Peluru juga habis!" (ahm)