Friday, 26 December 2008

Hanyutnya Presiden Soeharto

Hanyutnya Presiden Soeharto

Sudah tentu mantan Presiden Soeharto sedikit kebagian sentilan Gus Dur. Ceritanya, suatu hari Pak Harto memancing di sebuah sungai. Bekas orang kuat itu dikenal gemar memancing (dan mungkin bukan cuma ikan saja yang dipancingnya). Saking asyiknya, Pak Harto tidak sadar bahwa air sungai itu meluap, lalu terjadilah banjir besar.

Pak Harto hanyut terbawa arus deras. Selama hanyut itu rupanya dia tak sadarkan diri, dan ketika dia terbangun dia berada jauh dari tempatnya semula. Keadaannya sangat sepi, hanya ada seorang petani, yang rupanya telah menolong Pak Harto.

Merasa berutang budi dan sangat berterimakasih, Pak Harto berkata kepada penolongnya itu.

"Kamu tahu enggak saya ini siapa?" tanya Pak Harto.

"Tidak," jawab si penolong.

"Saya ini Soeharto, Presiden Republik Indonesia."

"Oooh!"

"Nah, karena kamu sudah menolong saya, maka kamu boleh minta apa saja yang kamu mau, pasti saya beri. Ayo katakan saja keinginan kamu."

"Oooh!"

"Jangan ah oh aja. Ayo bilang!" desak Presiden.

"Kalau begitu saya cuma minta satu hal saja, Bapak Presiden," kata sang penolong.

"Ya katakan saja apa itu?" kata Pak Harto.

"Tolong jangan bilang siapa-siapa bahwa saya yang menolong Bapak."

"Diamputtt!" (ahm)

Kaum Almarhum Tak Punya Kepentingan

Kaum Almarhum Tak Punya Kepentingan

Meminta nasihat kepada kiai sepuh atau datang ke makam Walisongo merupakan tradisi lazim di kalangan nahdliyin. Dalam hal ini Gus Dur malah termasuk 'biang'. Misalnya, tak lama setelah dilantik menjadi Presiden pada Oktober 1999, ia langsung berziarah ke makam KH Ahmad Mutamakin, di Pati, Jawa Tengah.

Apalagi ia memang mengaku keturunan KH Mutamakin yang dikenal sebagai penyebar Islam esoteris (batini) yang hidup di zaman Raja Kartasura, Amangkurat IV (1719-1726) dan Pakubuwono II (1726-1749).

Sungguhkah Gus Dur benar-benar percaya pada isyarat dari makam-makam leluhur semacam itu? Kelihatannya dia memang percaya, sebab Gus Dur selalu siap dengan gigih dan sungguh-sungguh membela "ideologinya" ini. Menurut KH Cholil Bisri, setiap memutuskan sesuatu yang penting, Gus Dur lebih banyak datang ke makam para wali ketimbang memohon isyarat kiai sepuh.

Ini sering membikin repot para koleganya di PB NU. Pamannya sendiri, KH Yusuf Hasyim (Pak Ud), termasuk yang paling kerepotan dengan metode pengambilan keputusan ala Gus Dur ini. "Susah berdiskusi dengan Durrahman itu," keluh Pak Ud, di masa Gus Dur menjadi Ketua Umum PB NU.

"Dalam rapat kalau kita tanya apa landasan keputusannya, dia bilang dia dapat ilhamnya dari mimpi atau dari makam...Kita mau bilang apa?

Gus Dur sendiri sudah hapal dan kebal terhadap keberatan semacam itu. Inilah tangkisan standarnya:

"Saya datang ke makam karena saya enggak percaya sama yang hidup. Mereka yang mati itu sudah tidak punya kepentingan." (ahm)

mati ngerokok

Mati Ngerokok
Semasa belajar di Mesir, Gus Dur punya teman asal Aceh, namanya Yas. Kamar mereka bersebelahan. Orang ini, tutur Gus Dur, betul-betul perokok berat. Ke mana pun dia pergi, pasti di kantongnya selalu terselip dua bungkus rokok. Satu sudah dibuka, satu lagi buat cadangan.

"Bagi dia, ngerokok itu jangan sampai ketelatan," tutur Gus Dur. "Makanya si Yas selalu bawa dua bungkus."

Saking sayangnya pada temannya ini, Gus Dur menasihatinya, "Yas, apa kamu enggak pernah baca tulisan di majalah bahwa tiap satu batang rokok itu bisa memendekkan umur 30 detik."

"Lho, kamu ini gimana. Sekarang coba kamu itung sudah berapa tahun umurmu diperpendek oleh rokok itu."

Sambil menyulut sebatang lagi, Bung Yas menimpali, "Ya, tapi kalau saya enggak merokok, besok saya bisa mati." (ahm)

Monday, 20 October 2008

Mereka Pasti Kiai

Rombongan jamaah haji NU dari Tegal tiba di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, Arab Saudi. Langsung saja kuli-kuli dari Arab berebutan untuk mengangkut barang-barang yang mereka bawa.

Akibatnya, dua orang di antara kuli-kuli itu terlibat percekcokan serius, dalam bahasa Arab. Mereka terus berbicara dalam bahasa Arab dengan suara agak keras. Melihat hal itu, rombongan jamaah haji tersebut spontan merubung mereka berdua sambil berucap "Amin, Amin, Amin!"

Gus Dur yang sedang berada di Bandara tersebut kemudian menghampiri mereka dengan heran.

"Loh, kenapa kalian berkerumun di sini?" tanyanya dengan penuh keingintahuan.

"Mereka ini terlihat sangat fasih berdoa Gus, apalagi mereka pakai surban, mereka itu kan pasti kiai..." (ahm)

dikutip dari okezone.com